Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 11 September 2013

Anak Durhaka

Ada seorang anak lelaki tunggal, hanya saja mulutnya suka bicara kotor dan kasar. Dia selalu melemparkan celaan dan mengumpat orang tuanya tanpa memperhatikan perasaan mereka, sering durhaka, dan meremehkan ajaran agama Islam. Bahkan, tidak pernah taat atau memuliakan keduanya. Selalu saja menyakiti hati dengan kata-kata yang pedas. Kedurhakaannya semakin meningkat setelah ayahnya meninggal dunia. Ia berhati kasar terhadap sang ibu. Ibunya yang menderita ini selalu saja menyampaikan nasihat kepada anak tunggalnya agar tidak berkawan dengan teman-teman yang buruk akhlaknya karena mereka itulah yang menyebabkan anak tunggalnya jauh dan ajaran agama, tidak berakhlak mulia, ketinggalan pelajaran, dan sifat jelek lainnya. Namun, anak tunggal ini tidak pernah mendengar nasihat ibunya. Bahkan, melemparkan kata-kata menyakitkan yang keluar dari hati yang keras membatu. Jika ibunya tidak berhenti menasihatinya, maka ia mengancam akan lapor kepada paman-pamannya agar mereka memberi pelajaran kepada ibunya. Namun, ia malah mencela paman dan bibinya, padahal ia telah berumur 24 tahun. Usia yang tidak seorang pun bisa mengendalikan keinginannya sebab ia dapat melawan siapa saja.
Semakin hari ia semakin durhaka kepada ibunya dengan melemparkan kata-kata kotor dan menyakitkan. Suatu hari saat setan telah berhasil menguasai nafsunya, ia mengambil sandal dan melemparkannya ke arah ibunya tanpa perasaan dosa atau bersalah. Sandal itu tepat mengenai punggung si ibu. Kemudian, si ibu menangis dan menyesali nasibnya. Saking sakitnya, si ibu menyumpahi anaknya, walaupun dengan bercucuran air mata. Pada tengah malam anak yang durhaka itu baru pulang ke rumah setelah bermain-main dengan kawan-kawannya yang jahat, lalu masuk kamar dan tidur pulas.

Keesokan harinya, ketika ia bangun tidur, tiba-tiba ia tidak dapat menggerakkan tangan kanannya.... Tangan yang diguna¬kan untuk melempar ibunya dengan sandal. Ya benar, sama sekali tangannya tidak dapat digerakkan!! Tangan kanannya lumpuh. Kemudian, ia menutup pintu kamar tidurnya dengan keras dan menangisi nasib dirinya atas perbuatan dosanya ter¬hadap sang ibu. Mengetahui musibah yang menimpa anak tung-galnya, si ibu merasa kasihan karena tidak bisa berbuat apa-apa, lalu beliau mendoakan agar Allah memberi kesembuhan kepada anak tunggalnya.

Bagaimana bisa terjadi sehingga anak itu tega melempar ibu kandungnya dengan sandal? Sesungguhnya manusia yang paling bodoh sekalipun tidak mungkin melakukan perbuatan dosa seperti itu. Hal tersebut tidak dilakukan manusia terhadap binatang kesayangannya karena belas kasih! Sudah hilangkah ajaran agama dan hati nuraninya?

Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang hamba-Nya untuk berkata "ah" kepada kedua orang tuanya, dan agar berlemah lembut dan sopan-santun terhadapnya. Bagaimana nasib seseorang yang berbuat dosa terhadap kedua orang tuanya, seperti, melemparnya dengan sandal? Apakah mungkin dikatakan ia masih memegang nilai-nilai Islam? Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,
''Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu-bapaknya. Ibunya mengandungnya dengan susah-payah dan melahirkannya dengan susah¬ payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya ada¬lah 30 bulan sehingga apabila dia telah dewasa dan umur¬nya sampai 40 tahun, ia berdoa, 'Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada Ibu-bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang salih yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. "(Al-Ahqaf: 15).

Senin, 02 September 2013

Kisah Inspiratif

Amir Syuhada

Untuk pertama kalinya ia tumpahkan airmata kesedihannya saat usianya belum genap sepuluh tahun. Saat itu, di depan matanya ia menyaksikan kedua orang tuanya dan ratusan ribu bangsanya dibantai dan diusir dari Deir Yasin. Itulah saat pertama ia mengenal langsung kekejaman Yahudi yang selama ini hanya didengarnya dari cerita ibunya, dan saat itu pula tergambar bayang-bayang penderitaan bangsanya Kemudian tangis kesedihan itu secara beruntun menerpanya, ketika Irgun membawa satu persatu orang-orang tercintanya tanpa pernah lagi kembali. Saat ia melepas suaminya pada perang Ramadhan (1973), saat itu Amir, putra mereka, baru saja melewati satu tahun usianya. Amir masih terlampau kecil untuk memahami, ketika suatu senja seseorang datang mengabarkan kesyahidan ayahnya. 
Sudah terbayang masa depan hidupnya, seorang janda dan seorang bayi di tengah penindasan Yahudi. Saat itu tidak ada yang ingin dilakukannya kecuali menangis. Tapi tidak, dia tidak melakukan itu. Saat itulah ia memulai tekadnya untuk tidak ingin menambah kegembiraan orang-orang Yahudi dengan airmata kesedihannya. Lebih dari itu ia tidak ingin mengajari Amir menjadi pemuda yang lemah. Dan sejak saat itu pula, setiap belur kesedihan yang menerpa, digubahnya menjadi senandung-senandung jihat yang dia bisikkan ke telinga Amir, hingga memenuhi rongga dada anaknya. Dia masih bisa bertahan untuk tidak menagis saat pembatain Taal el-Zatar ataupun Sabra Shatila yang menghabisi kerabatnya yang tersisa. Masih disisakan sedikit harapan dalam dirinya demi seorang Amir putra tercintanya. Dia tidak ingin menyiai-nyiakan warisan paling berharga dari suaminya itu. Sekian tahun ia telah membendung tangis itu, tapi tidak untuk hari ini. 
Kata-kata pemuda tanggung dihadapannya telah menjebol kekokohan benteng pertahanannya. Dicobanya untuk mengelak dan membujuk hatinya, bahwa yang didengarnya beberapa menit yang lalu hanyalah mimpi. Tapi sosok di depannnya teramat nyata untuk ia ingkari. Amir syuhada, pemuda tanggung didepannya itu, putra satu-satunya, kembali mengulang kata-katanya, "Bunda, ijinkan ananda pergi berjihad. "Suara itu terdengar lembut dan penuh harap, seperti lima belas tahun yang lalu ketika Amir kecil meminta baju buat berhari raya. Tapi suara itu kini memendam sebuah tekad dan keberanian, dan dia tahu bahwa dia tak'kan mungkin sanggup menahan gelora itu. Wanita tua itu menarik nafas panjang menahan isak yang satu persatu saat keluar. Serasa masih terngiang di telinganya 23 tahun yang lalu, kalimat senada diucapkan suaminya. Dengan berat hati dilepasnya kepergian suaminya. Ia masih menyimpan sedikit harapan bahwa suaminya akan kembali, meski kenyataan yang terjadi tidaklah sesuai dengan apa yang diharapkannya. Tapi kali ini hatinya teramat berat, karena ia tahu benar apa yang dimaksud dengan kata "jihad" oleh Amir anaknya. Baru dua hari yang lalu Amir dengan bersemangat bercerita tentang kawan-kawannya yang syahid dalam aksi bom syahadah. Itu artinya, ia harus mengubur seluruh harapan akan kembalinya putranya dengan selamat, bahkan sepotong tubuhnya sekalipun. 
"Amir Syuhada" (pemimpin para syahid), perlahan diejanya nama putranya. Nama yang diberikan oleh suaminya. Nama yang menyimpan sebuah cita-cita amat dalam. "Aku tidak berharap dia menjadi orang terkenal di dunia karena memimpin sebuah angkatan perang, tapi aku ingin dia menjadi orang terkenal di akhirat karena memipin rombongan syuhada. Dia harus menjadi orang yang pertama menyambut setiap kali kesempatan jihad itu datang," begitulah harapan suaminya. Betapa cepat perjalanan hidup. Betapa cepat harapan-harapan berganti. Seminggu yang lalu, Amir dengan malu-malu mengungkap keinginannya untuk mengakhiri masa lajangnya dengan membina sebuah rumah tangga. Ya, Amir ingin menikah. Sudah terbayang seorang gadis cantik menjadi menantunya, bahkan sudah terbayang pula cucu-cucu yang akan meramaikan rumah gubuknya ini. Namun kehendak ternyata berkata lain. Bukan perlengkapan nikah yang dibawa pulang putranya hari ini. Tapi sepotong baju khusus dengan kabell-kabel di sana sini dan beberapa bungkusan aneh yang baru kemudian ia tahu berisi bom. Isaknya mulai terdengar saling memburu. Begitupun cairang bening di matanya dibiarkannya mengalir, tanpa usaha lagi untuk menahan. Amir pun terdiam mematung. Baru ketika ibunya mulai tenang, diraihnya tangan keriput itu dan digenggamnya penuh perasaan sambul berucap, "Bunda, ananda lakukan ini karena ananda ingin mewujukan apa yang selama ini menjadi do'a bunda terhadap ananda." 
Sekilas wanita tua itu terhenyak mendengar penuturan anaknya, tapi ia tetap diam tak menyahut. Amir melanjutkan ucapannya, "Bukankah bunda yang setiap malam berdo'a agar ananda menjadi anak yang sholeh? Inilah ananda yang berusaha mewujudkan harapan bunda. Bukankah bunda selalu menasihati ananda untuk senantiasa istiqamah memegang panji da'wah ini, dan senantiasa memenuhi hidup dengan jihad dan pengorbanan? Menegakkan kalimat tauhid, melindungi kaum yang lemah, membela kebenaran dan keadilan? Bukankakah bunda selalu mengingatkan bahwa kemanisan iman hanya dapat dirasakan oleh orang yang menegakkan dia dalam dirinya, bahwa bahagia hanya dapat dirasakan oleh orang yang berjuang membela kebenaran dan keadilan, bahwa kemenangan dan kejayaan hakiki hanya akan diberikan pada pejuang yang telah berkorban, kuat menahan penderitaan dan kepapaan, bahwa ketabahan dan kesabaran berjuang hanya akan diberikan pada mu'min yang mendekatkan dirinya kepada Allah? Bukankah bunda yang berulangkali mengatakan hal itu? Inilah ananda Amir yang berusa menjalankan nasihat Bunda." 
Amir mencoba untuk tetap tersenyum, sambil tangannya menggenggam telapak tua ibunya. Dulu ketika masih kecil ia suka merengek dan menarik-narik tangan itu jika menginginkan sesuatu. "Tapi aku tidak berdo'a agar kamu mati," perlahan ibunya bereaksi. Dan masih dengan tersenyum Amir berucap, "Bunda...," dengan gaya merajuk Amir menyebut ibunya dan melanjutkan ucapannya, "siapa yang mau mati?" Bunda tentu masih ingat, bagaimana ketika ananda masih usia 7 tahun. Jika ananda menangis, Bunda selalu menghibur dengan cerita tentang kepahlawanan ayah, tentang keberanian ayah dalam setiap medan tempur, tentang kisah kesyahidan ayah, dan bunda selalu mengakhirinya dengan membaca ayat, Janganlah kamu mengira bahwa mereka yang terbunuh di jalan Allah itu, namun sesungguhnya mereka itu hidup di sisi Rabbnya dengan mendapatkan rizki. Bunda, ananda berjihad bukan untuk mati, tapi ananda berjihad untuk syahid, untuk kehidupan yang lebih abadi." "Tapi tidak dengan bunuh diri," ibunya menukas. "Bunuh diri? Siapa yang mengatakan itu pada Bunda," terdengar nada bicara Amir meninggi, ketika sadar dengan siapa ia bicara, kembali Amir melunakkan suaranya sambil mengulang pertanyaannya. "Siapa yang mengatakan itu pada Bunda?" tanpa menunggu jawaban, Amir melanjutkan, "Bunda.., Bunda tentu masih ingat ketika ananda masih kecil, bunda yang selalu mengiring tidur ananda dengan senandung jihad. Bunda yang menanam benih-benih keberanian itu dalam rongga dada ananda, Bunda yang telah menyalakan api revolusioner itu dalam jiwa ananda. Kini antarkanlah ananda pergi ke medan jihad dengan senandung itu, iznkan ananda membakar kesombongan Yahudi dengan api itu. Bunda, masih ingatkah Bunda akan senandung Khubaib bin Ady ra. sesaat menjelang digantung 

orang-orang kafir Quraisy? 
Sekiranya Allah menghendaki keberkahan 
Dengan menghancurkanlumatkan tubuhku 
Aku tak peduli, asal aku mati sebagai Muslim 
Untuk Allah-lah kematianku pasti.

"Sunggu Bunda, jika tegaknya kalimat Allah di bumi ini harus dibayar dengan cabikan- cabikan tubuh ananda, ananda tidak akan pernah mundur. Bunda pula yang berkisah tentang kepahlawanan Ikramah dalam perang Yarmuk, ketika ia berseru, "Siapa yang sedia berjanji setia kepadaku untuk mati?" Kemudian 400 mujahidin serentak menyambutnya, dan mereka tidak mundur sejengkal pun sampai menemui kesyahidan. Inikah yang hendak bunda katakan bunuh diri...? Tidak Bunda, ananda telah menjual diri ini pada Allah, biarkan ananda menepati janji." Sejenak ruang itu hening. Isakan wanita tua itupun sudah lama reda, hanya genangan bening yang masih tersisa di sudut matanya. Meski tanpa harap, dicobanya untuk terakhir kali membujuk putranya, seperti mengingatkan ia bertanya, "Bukankah beberapa waktu lalu kau telah berniat untuk menikah?" Masih dengan senyumnya, Amir menjawab, "Bunda, sekian lama ananda belajar tentang arti sebuah cinta. Dan ananda telah menemukan, bahwa cinta yang tertinggi hanyalah untuk Allah. Sekian lama ananda memendam rindu untuk bertemu Allah, dan saat ini kesempatan itu telah datang. Sungguh Bunda, ananda tidak ingin kehilangan kesempatan." Diucapkannnya kalimat terakhir dengan anda tegas. 
Wanita tua itu kembali menarik nafas panjang. Ditatapnya pemuda tanggung di hadapanya, seakan dia ingin memastikan bahwa pemuda di hadapannya itu benar-benar Amir anaknya. Dia sebenarnya sudah menyadari sejak lama, bahwa saat-saat seperti ini pasti akan terjadi. Dia pun tahu tak seharusnya mencegah maksud putranya. Amir bukan lagi bocah kecil yang bisa dijewer telinganya kalau nakal, atapun dibujuk dengan sepotong kue agar tidak menangis. Amir kini telah tumbuh menjadi pemuda dewasa, bahkan mungkin terlalu dewasa untuk pemuda seusianya. Dia tahu bahwa kata-kata yang diucapkan Amir benar adanya. tapi dia merasa begitu berat untuk membujuk naluri keibuannya. Sejak Amir terlibat dengan berbagai aktivitas HAMAS, dia sebenarnya telah berusaha mencoba meyakinkan hatinya, bahwa Amir bukanlah miliknya. Benar, ia telah melahirkannya, memberinya kasih sayang, tapi ia sama sekali tidak berhak mendiktekan keinginannya. Benar ia telah memerikan rumah bagi raganya, tapi tidak pada jiwanya, karena jiwanya telah menjadi penghuni rumah masa depan yang kini tengah dirisaukannya. Amir telah menjadi milik zamannya, sejarahnya dan tantangannya. 
Dia hanyalah sebatang busur, dan Amir adalah anak panah yang meluncur. Sang Pemanah Maha Tahu sasaran bidikan keabadian. Direntangkan-Nya busur itu dengan kekuasaan-Nya hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat. Meliuk dalam suka cita dalam rentangan tangan Sang Pemahan. Sang Pemanah mengasihi anak panah yang melesat laksana kilat, sebagaimana pula dikasihi-Nya busur yang mantap. Dia seharusnya gembira, 24 tahun ini mendapatkan kesempatan menyertai perjalanan sejarah Amir. Dia seharunya bangga karena benih yang ia tanam lewat senandung- senandungnya telah tumbuh subur, dan kini saatnya berbuah. Tidak , dia tidak boleh terbawa perasaannya. Dia tidak boleh menghalangi buah yang telah ranum untuk dipetik. Di tatapnya wajah pemuda di hadapannya, sungguh tampan dan bercahaya, persis wajah asy-syahid suaminya. Sorot matanya tajam, menyimpan semangat yang bergelora. Sama sekali tak ditemukan keraguan di sana. 
Perlahan tangan keriputnya meraba wajah itu. Wanita tua itu mencoba untuk tersenyum, yah, dia harus ikhlas. Dengan suara bergetar dia berkata, "Pergilah anakku, jangan kau cemaskan bunda. Simpan kesedihan dan derita bunda di kedalaman jiwamu. Jangan kau pergi jika masih ada setitik dendam, bersihkan niatmu hanya untu meraih ridha Allah. Pancangkan tinggi-tinggi panji tauhid di bumi ini. Kalau memang hanya dengan cabikan tubuhmu ia akan tegak, bunda merelakanmu. Pergilah anakku, dan jangan kau kembali kepada bunda selama nyawamu masih tersisa..." Diciumnya dahi putra satu-satunya itu. Wanita itu tak lagi menangis. Dilepaskannya kepergian putranya dengan senyum keikhlasan. Matahari senja menyapu lorong-lorong Tel Aviv. Tidak ada yang memperdulikan ketika seorang pemuda tanggung berjalan menghamprii sebuah pos tentara Israel. Tanpa sebuah aba-aba, Bummm.., tubuh pemuda itupun meledak mengatarkannya menemui Rabbnya. Berjajar para bidadari berrbut kekasih yang baru tiba, seorang pemuda tanpan dengan gaun pengantin dari surga tampak berbahagia. 
Lepas Isya' di sebuah perkampungan di jalur Gaza, seorang lelaki berjalan mengendap- endap, mengetuk pintu sebuah gubuk dengan hati-hati sambil mengucap salam. Wajah seorang wanita tua muncul menjawab salamnya. Tanpa menunggu lelaki itu mendahului berbicara, "Amir Syuhada telah syahid sore tadi. Dan hanya ini yang tersisa dari jasadnya, yang dititipkannya menjelang berangkat." Berkata demikian lelaki itu sambil memberikan sebuah mushaf mungil di tanggannya. Wanita tua mendekap mushaf itu didadanya, seperti ia mendekap Amir kecil menjelang tidurnya. Dia tidak pernah merasakan kebahagiaan sebagaimana kebahagiaan yang dirasakannya hari ini. Seakan ada yang menuntun, dia berjalan menghampiri kamar putranya. Dengan hati-hati dikuakkannya pintu kayu yang menghalanginya. Sungguh, dia mencium bau harum di kamar itu. Bau harum yang khas keharuman kamar pengantin. 

Ibunda...
Kau ucapkan selamat tinggal
tatkala aku berangkat berjihad
Dan kau katakan padaku
Jadilah singa yang mengamuk meraung
Kemudian aku berlalu
mencatat segala pembataian dengan darahku
Bunda jangan kau bersedih
Kini belengguku berat Bunda
Namun...kemauanku tak terkalahkan
Penjara dan siksaan mereka tak menakutkanku
Pijaran listrik tak kuasa menyengatku
Bunda jangan bersedih
Goncangku kanku jadikan pintu jahim
yang meledak menghantam para musuh
Betapapun kuatnya belenggu
Dengan sabar dan tekad bulat kurantas belengguku
Bunda jangan kau bersedih
Bersabarlah Bunda
Jika tiada lagi pertemuan
Dan semakin panjang malam mencekam
maka esok kita kan hidup mulia
Di atas negeri kita sendiri
Bunda...jangan kau bersedih 


"Wahai, kaum muslimin! Lawan dan musuhmu berani menyerang dan menjajah kamu hanyalah karena Allah meninggalkan kamu. Janganlah kamu mengira bahwa musuhmu telah menraih kemenangan atas kamu tetapi sesungguhnya Allah Yan Maha Pelindung dan Maha Penolong telah berpaling dari kamu. Demi Allah, musuh-musuhmu bukannya kuat, tetapi umat Islam yang lemah." (Asy-Syahid Hasan al-Bana) 
"Saya mengagumi seorang pemuda karena keberanian dan keploporannya dan saya mengagumi seorang pemudi karena adab dan sifat malunya. Sebab, keberanian adalah pelengkap akhlak dan sifat utama pemuda, sedangkan malu adalah kecantikan pemudi yang paling utama." (Mustafa Luthfi al-Manfaluthi) 


Senin, 26 Agustus 2013

Sucikan hati

Dosa Tanpa Taubat Hati Akan Hitam

HATI adalah organ yang paling utama dalam tubuh manusia dan nikmat paling agung diberikan oleh Allah. Hati menjadi tempat Allah membuat penilaian terhadap hamba-Nya. Pada hatilah letaknya niat seseorang. Niat yang ikhlas itu akan diberi pahala oleh Allah.

Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik agar tidak rosak, sakit, buta, keras dan lebih-lebih lagi tidak mati. Sekiranya berlaku pada hati keadaan seperti ini, kesannya adalah membabitkan seluruh anggota tubuh badan manusia. Maka, akan lahirlah penyakit masyarakat berpunca dari hati yang sudah rosak itu.

Justeru, hati adalah amanah yang wajib dijaga sebagaimana kita diamanahkan untuk menjaga mata, telinga, mulut, kaki, tangan dan sebagainya daripada berbuat dosa dan maksiat.

Hati yang hitam ialah hati yang menjadi gelap kerana dosa. Setiap satu dosa yang dilakukan tanpa bertaubat itu akan menyebabkan terjadinya satu titik hitam pada hati. Itu baru satu dosa. Maka bayangkanlah bagaimana pula kalau sepuluh dosa? Seratus dosa? Seribu dosa? Alangkah hitam dan kotornya hati ketika itu.

Perkara ini jelas digambarkan dalam hadis Rasulullah bermaksud: “Siapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu daripada hatinya.

Jika dia tidak bertaubat, maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam.” (Hadis riwayat Ibn Majah).

Hadis ini selari dengan firman Allah yang bermaksud “Sebenarnya ayat-ayat Kami tidak ada cacatnya, bahkan mata hati mereka telah diseliputi kekotoran dosa dengan sebab perbuatan kufur dan maksiat yang mereka kerjakan.” (Surah al-Muthaffifiin, ayat 14).

Hati yang kotor dan hitam akan menjadi keras. Apabila hati keras, kemanisan dan kelazatan beribadat tidak dapat dirasakan. Ia akan menjadi penghalang kepada masuknya nur iman dan ilmu. Belajar sebanyak mana pun ilmu yang bermanfaat atau ilmu yang boleh memandu kita, namun ilmu itu tidak akan masuk ke dalam hati, kalau pun kita faham, tidak ada daya dan kekuatan kita untuk mengamalkannya.

Allah berfirman yang bermaksud “Kemudian selepas itu, hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Pada hal antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir sungai daripadanya, dan ada pula antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air daripadanya.

“Dan ada juga antaranya yang jatuh ke bawah kerana takut kepada Allah sedang Allah tidak sekali-kali lalai daripada apa yang kamu kerjakan.” (Surah al-Baqarah, ayat 74).

Begitulah Allah mendatangkan contoh dan menerangkan bahawa batu yang keras itu pun ada kalanya boleh mengalirkan air dan boleh terpecah kerana amat takutkan Allah.

Oleh itu, apakah hati manusia lebih keras daripada batu hingga tidak boleh menerima petunjuk dan hidayah daripada Allah.

Perkara yang paling membimbangkan ialah apabila hati mati akan berlakulah kemusnahan yang amat besar terhadap manusia.

Matinya hati adalah bencana dan malapetaka besar yang bakal menghitamkan seluruh kehidupan. Inilah natijahnya apabila kita lalai dan cuai mengubati dan membersihkan hati kita. Kegagalan kita menghidupkan hati akan dipertanggungjawabkan oleh Allah pada akhirat kelak.

Persoalannya sekarang, kenapa hati mati? Hati itu mati disebabkan perkara berikut:

Pertama: Hati mati kerana tidak berfungsi mengikut perintah Allah iaitu tidak mengambil iktibar dan pengajaran daripada didikan dan ujian Allah.

Allah berfirman bermaksud “Maka kecelakaan besarlah bagi orang yang keras membatu hatinya daripada menerima peringatan yang diberi oleh Allah. Mereka yang demikian keadaannya adalah dalam kesesatan yang nyata.” (Surah al-Zumar, ayat 22).

Kedua: Hati juga mati jika tidak diberikan makanan dan santapan rohani sewajarnya. Kalau tubuh badan boleh mati kerana tuannya tidak makan dan tidak minum, begitulah juga hati.

Apabila ia tidak diberikan santapan dan tidak diubati, ia bukan saja akan sakit dan buta, malah akan mati akhirnya.

Santapan rohani yang dimaksudkan itu ialah zikrullah dan muhasabah diri.

Oleh itu, jaga dan peliharalah hati dengan sebaik-baiknya supaya tidak menjadi kotor, hitam, keras, sakit, buta dan mati. Gilap dan bersihkannya dengan cara banyak mengingati Allah (berzikir).

Firman Allah bermaksud “Iaitu orang yang beriman dan tenteram hati mereka dengan mengingati Allah. Ketahuilah! Dengan mengingati Allah itu tenang tenteramlah hati manusia.” (Surah al-Ra'd, ayat 28)

Firman-Nya lagi bermaksud “Hari yang padanya harta benda dan anak-anak tidak dapat memberikan sebarang pertolongan, kecuali harta benda dan anak-anak orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera daripada syirik dan munafik.” (Surah al-Syura, ayat 88 - 89)

Sucikanlah 4 hal dengan 4 perkara :
"Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan,
Lidahmu basah dengan berzikir kepada Penciptamu,
Hatimu takut dan gementar kepada kehebatan Rabbmu,
..dan dosa-dosa yang silam di sulami dengan taubat kepada Dzat yang Memiliki mu."

"sampaikanlah walau satu ayat" al hadis

Berfikir

Burung, Hikmah bagi Orang yang Berfikir

Jika kita perhatikan alam ciptaan Illahi ini, berbagai-bagai pengajaran dapat diteladani dari kejadian alam. Antara makhluk ciptaan Allah yang kita dapat perhatikan adalah burung.

Burung jika diperhatikan dari kawasan yang bermusim dingin akan sentiasa berhijrah ke kawasan yang lebih panas. Memang sudah menjadi lumrah alam penghijrahan tersebut dilakukan secara berkumpulan. Dan dalam setiap perkumpulan tersebut pasti ada seorang ketua yang sentiasa berada di hadapan. Selain memiliki ketua, sekumpulan burung ini turut berhijrah mengikut formasi tertentu iaitu formasi berbentuk V. Secara saintifiknya formasi ini menghasilkan satu bentuk aero-dinamik yang membahagikan rintangan angin kepada setiap ahli burung yang sekaligus memudahkan penghijrahan jika dibandingkan dengan penghijrahan berseorangan. Maka untuk membentuk formasi tersebut amatlah penting akan wujudnya komponen perpaduan dan kerjasama di kalangan burung tersebut. Subhanallah, bertapa tingginya hikmah penciptaan burung itu.


Marilah kita melihat realiti hari ini. Keadaan umat Islam hari ini jelas sekali terumbang-ambing. Kita seolah-olah menjadi ‘pak turut’ terhadap segala apa ideologi yang dilaungkan oleh musuh-musuh kita. Sehinggakan isu-isu besar yang menyentuh soal agama sekalipun tidak diendahkan. Tiada lagi sensitiviti terhadap isu yang menimpa saudara-saudara sendiri sepertimana yang menimpa tanah Palestina. Tiada lagi kesepaduan di kalangan kita sepertimana yang ditonjolkan oleh sekumpulan burung tadi. Masing-masing mahu hidup ‘nafsi-nafsi, lu punya suka, gua punya suka’. Masing-masing tak mengendahkan apa yang menimpa orang lain asalkan hidup sendiri bahagia.

Menyingkap kembali zaman kegemilangan Islam di kala dahulu, seluruh umat Islam di seluruh dunia disatukan di bawah satu pemerintahan dan ketaatan setiap rakyat ditujukan kepada satu khalifah. Kesepaduan di saat itu amatlah jelas kukuh dan semua umat Islam bagaikan anggota-anggota badan manusia. Jika tangan terluka seluruh tubuh merasai kesakitannya. Jika kaki dijangkiti kuman seluruh tubuh berkerjasama untuk menyembuhkannya. Alangkah indahnya saudara-saudara sekalian. Sifat seperti inilah yang difirmankan oleh Allah dalam kalam-Nya; Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya…(33:4). Dalam satu badan manusia hanya ada satu hati dan dalam satu umat juga hanya ada satu hati.


Ayuh semua. Di sini diri ini menyeru kepada diri sendiri dan kalian semua untuk bersama-sama kita membina kekuatan ukhuwwah di antara kita. Ukhuwwah yang didasarkan atas aqidah hanya kepada Allah Taala semata-mata. Sedarlah bahawa perselisihanlah yang menyebabkan kita berpecah-belah. Ingatlah perintah Allah dalam surah al-Hujuraat ayat 10: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. InsyaAllah Islam pastikan tertegak kelak.


7 Indikator Kebahagiaan Dunia

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia.

Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.

Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona'ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah.

Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu :
"Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap "bandel" dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi.

Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.

Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.

Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?"
Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.

Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah.

Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya.

Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.

Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya.

Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan". Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.

Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya.

Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya.

Semangat memahami agama akan meng "hidup" kan hatinya, hati yang "hidup" adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.

Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat "hidup" orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.

Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu' mungkin membaca doa `sapu jagat' , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut "Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw" (yang artinya "Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia "), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.

Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.

Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu "wa fil aakhirati hasanaw" (yang artinya "dan juga kebahagiaan akhirat"), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.

Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.

Kata Nabi SAW, "Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga". Lalu para sahabat bertanya: "Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?". Jawab Rasulullah SAW : "Amal soleh saya pun juga tidak cukup". Lalu para sahabat kembali bertanya : "Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?". Nabi SAW kembali menjawab : "Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata".

Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

Sabtu, 24 Agustus 2013

Fiqih

Materi kelas 12

Pengertian Ijtihad

Ketika berbicara tentang ijtihad, yang ada di fikiran kita adalah bermakna bersungguh-sungguh. Karena secara bahasa ijtihad (إجتهادّ) berarti  الطاقة  artinya upaya sungguh-sungguh. Bentuk kata  إجتهادّ  memiliki akar kata جهد yang di masukkakn ke dalam wazan إفتعال  yang membentuk kalimatsehingga memiliki arti keadaan lebih (mubalaghah) atau maksimal dalam suatu tindakan atau perbuatan. Jadi, secara bahasa ijtihad adalah berusaha atau berupaya dengan bersungguh-sungguh. Perkataan ini tentu saja tidak digunakan dalam sesuatu yang tidak mengandung kesulitan dan kebenaran. Misalnya ada suatu ungkapan:  إجتهد فى حمل الرّحا  (Dia berusaha keras membawa batu giling) dan tidak pula digunakan pada kata: إجتهد فى حمل خردلةٍ    (berusaha sungguh-sungguh membawa satu biji). Atau bisa juga di sebut dengan sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al Quran maupun hadis dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan matang.

Sedangkan arti ijtihad menurut bahasa yang terkutip dalam beberapa kitab adalah:
بذل غاية الجهد فى الوصول الى امر من الامور فعل من الافعال
Artinya : Pencurahan segenap kesanggupan untuk mendapatkan sesuatu urusan atau sesuatu perbuatan
Sedangkan menurut istilah adalah:
بذل الجهد للتّوصّل الى الحكم الشرعيى العمليى من دليله التفصيليى
Pencurahan segenap kemampuan secara maksimal untuk mendapatkan hukum syara’ yang amali dari dalil-dalil yang tafsili.

Menurut Al Ghazali ijtihad secara bahasa adalah bersungguh-sungguh dalam menggunakan tenaga baik fisik maupun pikiran. Kata ini tidaklah digunakan kecuali dalam hal-hal yang mengandung kesulitan. Oleh karena itu tidak disebut berijtihad jika hanya mengangkat hal yang ringan, seperti mengangkat sebiji sawi.
Ijtihad menurut istilah, dapat dikutipkan beberapa pendapat, antara lain:
Menurut Al Ghazali, pengarahan kemampuan oleh mujtahid dalam mencari pengetahuan tentang hukum syara’.
Menurut al Amidi: pengerahan kemampuan dalam memperoleh dugaan kuat tentang sesuatu dari hukum syara’ dalam bentuk yang dirinya merasa tidak  mampu berbuat lebih dari itu.
Menurut Asy Syatibi: Ijtihad adalah pengerahan kesungguhan dengan usaha yang optimal dalam menggali hukum syara’.
Dan masih banyak lagi pendapat-pendapat lain mengenai ijtihad secara istilah.

Kemudian daripada itu kata ijtihad akhirnya digunakan sebagai salah satu istilah dalam kajian ilmu ushul fiqih yang bermakna “usaha maksimal ulama”, ushul fiqih dalam melakukan kajian untuk memperoleh ketentuan-ketentuan hukum yang bersifat dzanni, Zakaria al Anshari mengatakan bahwa kekuatan hasil ijtihad tersebut adalah dzanni, yakni punya peluang benar dan salah, dengan dugaan terkuat pada “benar” nya bukan pada salahnya, sejalan dengan itu, al Ghazali menekankan bahwa hasil ijtihad itu harus diyakini kebenarannya, baik oleh mujtahidnya sendiri maupun orang-orang yang mengikuti pendapatnya itu.
Dasar hukum ber-ijtihad
Kedudukan Ijtihad sebagai sumber hukum atau ajaran Islam ketiga setelah Al-Quran dan As-Sunnah, diindikasikan oleh sebuah Hadits (Riwayat Tirmidzi dan Abu Daud) yang berisi dialog atau tanya jawab antara Nabi Muhammad Saw dan Mu’adz bin Jabal yang menjawab pertanyaan Rasulullah dengan apa ia memutuskan hukum? Ia menjelaskan secara berurutan, yaitu dengan Al Qur’an, kemudian dengan sunnah Allah dan kemudian dengan melakukan ijtihad, Allah mengakui hal itu dengan mengatakan:
“Segala pujian bagi Allah yang telah memberi taufik atas diri utusan dari Rasulullah dengan apa yang diridhai oleh Allah dan rasulnya. Yang pada saat itu ia sedang di utus oleh Rasululloh ke yaman. Secara lengkapnya adalah sebagai berikut :

عن الحارث بن عمر و عن رحالٍ من أصحاب معاذٍ انّ رسول الله صلى الله عليه و سلم بعث معاذًا إلى اليمن فقال كيف تقضى فقال أقضى بما فى كتاب الله قال فإن لم يكن فى كتاب الله قال فبسنّة رسول الله صلّى الله عليه وسلّم قال فإن لم يكن فى سنة رسول الله صلّى الله عليه و سلّم قال اجتهد رأيي قال الحمد لله الّذى وفقّ رسول الله صلىّ الله عليه وسلّم
 (رواه الترمذى)
 
Yang artinya:
    Dari al Haris bin Amr, dari sekelompok orang teman-teman Mu’az, sesungguhnya Rasulullah SAW mengutus Mu’az ke negeri Yaman, maka beliau bertanya kepada Mu’az, atas dasar apa anda memutuskan suatu persoalan, dia jawab, saya akan memutuskan dengan dasar yang ada dalam kitab Allah, Nabi bertanya: “Kalau tidak anda temukan dalam kitab Allah?”, dia menjawab dengan dasar sunah Rasulullah SAW, beliau bertanya lagi: Kalau tidak anda temukan dalam sunnah Rasulullah?”, Muaz menjawab aku akan berijtihad dengan penalaranku, maka Nabi berkata: “Segala pujian bagi Allah yang telah memberi Taufik atas diri utusan rasulullah SAW” (HR Tirmizi).

Kamis, 18 Juli 2013

Adab

Adab Berbicara, Berdebat dan Mendengar Pendapat

ADAB BERBICARA
1. Semua pembicaraan harus kebaikan, (QS 4/114, dan QS 23/3), dalam hadits nabi SAW disebutkan:
“Barangsiapa yang beriman pada ALLAH dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau lebih baik diam.” (HR Bukhari Muslim)
2. Berbicara harus jelas dan benar, sebagaimana dalam hadits Aisyah ra:
“Bahwasanya perkataan rasuluLLAH SAW itu selalu jelas sehingga bisa difahami oleh semua yang mendengar.” (HR Abu Daud)
3. Seimbang dan menjauhi berlarut-larutan, berdasarkan sabda nabi SAW:
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak bercakap dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai rasuluLLAH kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)
4. Menghindari banyak berbicara, karena khuatir membosankan yang mendengar, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Wa’il:
Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa mengajari kami setiap hari Kamis, maka berkata seorang lelaki: Wahai abu AbduRRAHMAN (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud : Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena akupun pernah meminta yang demikian pada nabi SAW dan beliau menjawab kuatir membosankan kami (HR Muttafaq ‘alaih)
5. Mengulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan, dari Anas ra bahwa adalah nabi SAW jika berbicara maka beliau SAW mengulanginya 3 kali sehingga semua yang mendengarkannya menjadi faham, dan apabila beliau SAW mendatangi rumah seseorang maka beliau SAW pun mengucapkan salam 3 kali. (HR Bukhari)
6. Menghindari mengucapkan yang bathil, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai ALLAH SWT yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh ALLAH SWT keridhoan-NYA bagi orang tersebut sampai nanti hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai ALLAH SWT yang tidak dikiranya akan demikian, maka ALLAH SWT mencatatnya yang demikian itu sampai hari Kiamat.” (HR Tirmidzi dan ia berkata hadits hasan shahih; juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah)
7. Menjauhi perdebatan sengit, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat.” (HR Ahmad dan Tirmidzi)
Dan dalam hadits lain disebutkan sabda nabi SAW:
“Aku jamin rumah didasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah ditengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaqnya.” (HR Abu Daud)
8. Menjauhi kata-kata keji, mencela, melaknat, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, mela’nat dan berkata-kata keji.” (HR Tirmidzi dengan sanad shahih)
9. Menghindari banyak canda, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Sesungguhnya seburuk-buruk orang disisi ALLAH SWT di hari Kiamat kelak ialah orang yang suka membuat manusia tertawa.” (HR Bukhari)
10. Menghindari menceritakan aib orang dan saling memanggil dengan gelar yang buruk, berdasarkan QS 49/11, juga dalam hadits nabi SAW:
“Jika seorang menceritakan suatu hal padamu lalu ia pergi, maka ceritanya itu menjadi amanah bagimu untuk menjaganya.” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dan ia menghasankannya)
11. Menghindari dusta, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Tanda-tanda munafik itu ada 3, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkari dan jika diberi amanah ia khianat.” (HR Bukhari)
12. Menghindari ghibah dan mengadu domba, berdasarkan hadits nabi SAW:
“Janganlah kalian saling mendengki, dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari, dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba ALLAH yang bersaudara.” (HR Muttafaq ‘alaih)
13. Berhati-hati dan adil dalam memuji, berdasarkan hadits nabi SAW dari AbduRRAHMAN bin abi Bakrah dari bapaknya berkata:
Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata nabi SAW: “Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!” (2 kali), lalu kata beliau SAW: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya maka katakanlah: Cukuplah si fulan, semoga ALLAH mencukupkannya, kami tidak mensucikan seorangpun disisi ALLAH, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya.” (HR Muttafaq ‘alaih dan ini adalah lafzh Muslim)
Dan dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji. (HR Muslim)
ADAB MENDENGAR
1. Diam dan memperhatikan (QS 50/37)
2. Tidak memotong/memutus pembicaraan
3. Menghadapkan wajah pada pembicara dan tidak memalingkan wajah darinya sepanjang sesuai dengan syariat (bukan berbicara dengan lawan jenis)
4. Tidak menyela pembicaraan saudaranya walaupun ia sudah tahu, sepanjang bukan perkataan dosa.
5. Tidak merasa dalam hatinya bahwa ia lebih tahu dari yang berbicara
ADAB MENOLAK / TIDAK SETUJU
1. Ikhlas dan menghindari sifat senang menjadi pusat perhatian
2. Menjauhi ingin tersohor dan terkenal
3. Penolakan harus tetap menghormati dan lembut serta tidak meninggikan suara
4. Penolakan harus penuh dengan dalil dan taujih
5. Menghindari terjadinya perdebatan sengit
6. Hendaknya dimulai dengan menyampaikan sisi benarnya lebih dulu sebelum mengomentari yang salah
7. Penolakan tidak bertentangan dengan syariat
8. Hal yang dibicarakan hendaknya merupakan hal yang penting dan dapat dilaksanakan dan bukan sesuatu yang belum terjadi
9. Ketika menolak hendaknya dengan memperhatikan tingkat ilmu lawan bicara, tidak berbicara di luar kemampuan lawan bicara yang dikuatirkan menjadi fitnah bagi diri dan agamanya
10. Saat menolak hendaknya menjaga hati dalam keadaan bersih, dan menghindari kebencian serta penyakit hati.
Wamaa taufiiqi illaa biLLAAH, ‘alaihi tawakkaltu wa ilaihi uniib.
dipetik dari http://www.al-ikhwan.net/index.php?

Selasa, 16 Juli 2013

merindukan ramadhan

15 ALASAN MERINDUKAN RAMADHAN


Seperti seorang kekasih, selalu diharap-harap kedatangannya. Rasanya tak ingin berpisah sekalipun cuma sedetik. Begitulah Ramadhan seperti digambarkan sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah, "Andaikan tiap hamba mengetahui apa yang ada dalam Ramadhan, maka ia bakal berharap satu tahun itu puasa terus." Sesungguhnya, ada apanya di dalam Ramadhan itu, ikutilah berikut ini:

1. Gelar taqwa
Taqwa adalah gelar tertinggi yang dapat diraih manusia sebagai hamba Allah. Tidak ada gelar yang lebih mulia
dan tinggi dari itu. Maka setiap hamba yang telah mampu meraih gelar taqwa, ia dijamin hidupnya di surga dan diberi kemudahan-kemudahan di dunia. Dan puasa adalah sarana untuk mendapatkan gelar taqwa itu.
"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa." (QS al-Baqarah: 183)
Kemudahan-kemudahan yang diberikan Allah kepada hambanya yang taqwa, antara lain:

a. Jalan keluar dari semua masalah
Kemampuan manusia amat terbatas, sementara persoalan yang dihadapi begitu banyak. Mulai dari masalah dirinya, anak, istri, saudara, orang tua, kantor dan sebagainya. Tapi bila orang itu taqwa, Allah akan menunjukkan jalan berbagai persoalan itu. Bagi Allah tidak ada yang sulit, karena Dialah pemilik kehidupan ini.

"..Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar." (QS. Ath Thalaaq: 2)
"..Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. Ath Thalaaq: 4)

b. Dicukupi kebutuhannya
"Dan memberinya rezeki dari arah yang tak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya...."(QS. Ath Thalaaq: 3)

c. Ketenangan jiwa, tidak khawatir dan sedih hati
Bagaimana bisa bersedih hati, bila di dalam dadanya tersimpan Allah. Ia telah menggantungkan segala hidupnya kepada Pemilik kehidupan itu sendiri. Maka orang yang selalu mengingat-ingat Allah, ia bakal memperoleh ketenangan.

"Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. al-A'raaf: 35)

2. Bulan pengampunan
Tidak ada manusia tanpa dosa, sebaik apapun dia. Sebaik-baik manusia bukanlah yang tanpa dosa, sebab itu tidak mungkin. Manusia yang baik adalah yang paling sedikit dosanya, lalu bertobat dan bernjanji tidak mengulangi perbuatan dosa itu lagi. Karena dosa manusia itu setumpuk, maka Allah telah menyediakan alat penghapus yang canggih. Itulah puasa pada bulan Ramadhan. Beberapa hadis menyatakan demikian, salah satunya diriwayatkan Bukhari Muslim dan Abu Dawud, "Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan karena keimanannya dan karena mengharap ridha Allah, maka dosa-dosa sebelumnya diampuni."

3. Pahalanya dilipatgandakan
Tidak hanya pengampunan dosa, Allah juga telah menyediakan bonus pahala berlipat-lipat kepada siapapun yang berbuat baik pada bulan mulia ini. Rasulullah bersabda, "Setiap amal anak keturunan Adam dilipatgandakan. Tiap
satu kebaikan sepuluh lipad gandanya hingga tujuh ratus lipat gandanya." (HR. Bukhari Muslim).
Bahkan amalan-amalan sunnah yang dikerjakan pada Ramadhan, pahalanya dianggap sama dengan mengerjakana amalan wajib (HR. Bahaiqi dan Ibnu Khuzaimah). Maka perbanyaklah amal dan ibadah, mumpung Allah menggelar obral pahala.

4. Pintu surga dibuka dan neraka ditutup
"Kalau datang bulan Ramadhan terbuka pintu surga, tertutup pintu neraka, dan setan-setan terbelenggu."(HR Muslim) Kenapa pintu surga terbuka? Karena sedikit saja amal perbuatan yang dilakuka n, bisa mengantar seseorang ke surga. Boleh diibaratkan, bulan puasa itu bulan obral. Orang yang tidak membeli akan merugi. Amal sedikit saja dilipatgandakan ganjarannya sedemikian banyak. Obral ganjaran itu untuk mendorong orang melakukan amal-amal kebaikan di bulan Ramadhan. Dengan demikian otomatis pintu neraka tertutup dan tidak ada lagi kesempatan buat setan menggoda manusia.

5. Ibadah istimewa
Keistimewaan puasa ini dikatakan Allah lewat hadis qudsinya, "Setiap amalan anak Adam itu untuk dirinya, kecuali puasa. Itu milik-Ku dan Aku yang membalasnya karena ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwat dan makanannya karena Aku." (HR Bukhari Muslim) Menurut Quraish Shihab, ahli tafsir kondang dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, puasa dikatakan untuk Allah dalam arti untuk meneladani sifat-sifat Allah. Itulah subtansi puasa.

Misalnya, dalam bidang jasmani, kita tahu Tuhan tidak beristri. Jadi ketika berpuasa dia tidak boleh melakukan hubungan seks. Allah tidak makan, tapi memberi makan. Itu diteladani, maka ketika berpuasa kita tidak makan, tapi kita memberi makan. Kita dianjurkan untuk mengajak orang berbuka puasa. Ini tahap dasar meneladani Allah.

Masih ada tahap lain yang lebih tinggi dari sekedar itu. Maha Pemurah adalah salah satu sifat Tuhan yang seharusnya juga kita teladani. Maka dalam berpuasa, kita dianjurkan banyak bersedekah dan berbuat kebaikan.  Tuhan Maha Mengetahui. Maka dalam berpuasa, kita harus banyak belajar. Belajar bisa lewat membaca al-Qur'an, membaca kitab-kitab yang bermanfaat, meningkatkan pengetahuan ilmiah.

Allah swt setiap saat sibuk mengurus makhluk-Nya. Dia bukan hanya mengurus manusia. Dia juga mengurus binatang. Dia mengurus semut. Dia mengurus rumput-rumput yang bergoyang. Manusia yang berpuasa meneladani Tuhan dalam sifat-sifat ini, sehingga dia harus selalu dalam kesibukan.

Perlu ditekankan meneladani Tuhan itu sesuai dengan kemampuan kita sebagai manusia. Kita tidak mampu untuk tidak tidur sepanjang malam, tidurlah secukupnya. Kita tidak mampu untuk terus-menerus tidak makan dan tidak minum. Kalau begitu, tidak makan dan tidak minum cukup sejak terbitnya fajar sampai tenggelamnya matahari saja.

6. Dicintai Allah
Nah, sesesorang yang meneladani Allah sehingga dia dekat kepada-Nya. Bila sudah dekat, minta apa saja akan mudah dikabulkan. Bila Allah telah mencintai hambanya, dilukiskan dalam satu hadis Qudsi, "Kalau Aku telah mencintai seseorang, Aku menjadi pendengaran untuk telinganya, menjadi penglihatan untuk matanya, menjadi pegangan untuk tangannya, menjadi langkah untuk kakinya." (HR Bukhari)

7. Do'a dikabulkan
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, katakanlah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang berdo'a apabila dia berdo'a, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku." (QS. al-Baqarah: 186)
Memperhatikan redaksi kalimat ayat di atas, berarti ada orang berdo'a tapi sebenarnya tidak berdo'a. Yaitu do'anya orang-orang yang tidak memenuhi syarat. Apa syaratnya? "maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku."

Benar, berdo'a pada Ramadhan punya tempat khusus, seperti dikatakan Nabi saw, "Tiga do'a yang tidak ditolak; orang berpuasa hingga berbuka puasa, pemimpin yang adil dan do'anya orang teraniaya. Allah mengangkat do'anya ke awan dan membukakan pintu-pintu langit. 'Demi kebesaranKu, engkau pasti Aku tolong meski tidak sekarang." (HR Ahmad dan Tirmidzi)

Namun harus diingat bahwa segala makanan yang kita makan, kecucian pakaian, kesucian tempat, itu punya hubungan yang erat dengan pengabulan do'a. Nabi pernah bersabda, ada seorang yang sudah kumuh pakaiannya, kusut rambutnya berdo'a kepada Tuhan. Sebenarnya keadaannya yang kumuh itu bisa mengantarkan  do'anya dia diterima. Tapi kalau makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya yang dipakainya terambil dari barang yang haram, bagaimana bisa dikabulkan doa'nya?

Jadi do'a itu berkaitan erat dengan kesucian jiwa, pakaian dan makanan. Di bulan Ramadhan jiwa kita diasah hingga bersih. Semakin bersih jiwa kita, semakin tulus kita, semakin bersih tempat, pakaian dan makanan, semakin besar kemungkinan untuk dikabulkan do'a.

8. Turunnya Lailatul Qodar
Pada bulan Ramadhan Allah menurunkan satu malam yang sangat mulia. Saking mulianya Allah menggambarkan malam itu nilainya lebih dari seribu bulan (QS. al-Qadr). Dikatakan mulia, pertama lantaran malam itulah awal al-Qur'an diturunkan. Kedua, begitu banyak anugerah Allah dijatuhkan pada malam itu.
Beberapa hadits shahih meriwayatkan malam laulatul qodar itu jatuh pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Seperti dirawikan Imam Ahmad, "Lailatul qadar adalah di akhir bulan Ramadhan tepatnya di sepuluhb terakhir, malam keduapuluh satu atau duapuluh tiga atau duapuluh
lima atau duapuluh tujuh atau duapuluh sembilan atau akhir malam Ramadhan. Barangsiapa mengerjakan qiyamullail (shalat malam) pada malam tersebut karena mengharap ridha-Ku, maka diampuni dosanya yang lampau atau yang akan datang."

Mengapa ditaruh diakhir Ramadhan, bukan pada awal Ramadhan? Rupanya karena dua puluh malam sebelumnya kita mengasah dan mengasuh jiwa kita. Itu adalah suatu persiapan untuk menyambut lailatul qodar.
Ada dua tanda lailatul qadar. Al Qur'an menyatakan, "Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat JIbril dengan izin Tuhan mereka untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan/kedamaian sampai terbit fajar. (QS al-Qadr: 4-5)

Malaikat bersifat gaib, kecuali bila berubah bentuk menjadi manusia. Tapi kehadiran malaikat dapat dirasakan. Syekh Muhammad Abduh menggambarkan, "Kalau Anda menemukan sesuatu yang sangat berharga, di dalam hati Anda akan tercetus suatu bisikan, 'Ambil barang itu!'
Ada bisikan lain berkata, 'Jangan ambil, itu bukan milikmu!' Bisikan pertama adalah bisikan setan. Bisikan kedua adalah bisikan malaikat." Dengan demikian, bisikan malaikat selalu mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal positif. Jadi kalau ada seseorang yang dari hari demi hari sisi kebajikan dan positifnya terus bertambah, maka yakinlah bahwa ia telah bertemu dengan lailatul qodar.

9. Meningkatkan kesehatan
Sudah banyak terbukti bahwa puasa dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya, dengan puasa maka organ-organ pencernaan dapat istirahat. Pada hari biasa alat-alat pencernaan di dalam tubuh bekerja keras. Setiap makanan yang masuk ke dalam tubuh memerlukan proses pencernaan kurang lebih delapan jam. Empat jam diproses di dalam lambung dan empat jam di usus kecil (ileum). Jika malam sahur dilakukan pada pukul 04.00 pagi, berarti pukul 12 siang alat pencernaan selesai bekerja. Dari pukul 12 siang sampai waktu berbuka, kurang lebih selama enam jam, alat pencernaan mengalami istirahat total.

Meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli kesehatan, ternyata dengan berpuasa sel darah putih meningkat dengan pesat sekali. Penambahan jumlah sel darah putih secara otomatis akan meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Menghambat perkembangan atau pertumbuhan bakteri, virus dan sel kanker. Dalam tubuh manusia terdapat parasit-parasit yang menumpang makan dan minum. Dengan menghentikan pemasukan makanan, maka kuman-kuman penyakit seperti bakteri-bakteri dan sel-sel kanker tidak akan bisa bertahan hidup. Mereka akan keluar melalui cairan tubuh bersama sel-sel yang telah mati dan toksin.

Manfaat puasa yang lain adalah membersihkan tubuh dari racun kotoran dan ampas, mempercepat regenasi kulit, menciptakan keseimbangan elektrolit di dalam lambung, memperbaiki fungsi hormon, meningkatkan fungsi organ reproduksi, meremajakan atau mempercepat regenerasi sel-sel tubuh, meningkatkan fungsi fisiologis organ tubuh, dan meningkatkan fungsi susunan syaraf.

10. Penuh harapan
Saat berpuasa, ada sesuatu yang diharap-harap. Harapan itu kian besar menjelang sore. Sehari penuh menahan lapar dan minum, lalu datang waktu buka, wah... rasanya lega sekali. Alhamdulillah. Itulah harapan yang terkabul. Apalagi harapan bertemu Tuhan, masya' Allah, menjadikan hidup lebih bermakna. "Setiap orang berpuasa selalu mendapat dua kegembiraan, yaitu tatkala berbuka puasa dan saat bertemu dengan Tuhannya." (HR. Bukhari).

11. Masuk surga melalui pintu khusus, Rayyaan
"Sesungguhnya di surga itu ada sebuah pintu yang disebut rayyan yang akan dilewati oleh orang-orang yang berpuasa pada hari kiamat nanti, tidak diperbolehkan seseorang melewatinya selain mereka. Ketika mereka dipanggil, mereka akan segera bangkit dan masuk semuanya kemudian ditutup." (HR. Bukhari)

12. Minum air telaganya Rasulullah saw "Barangsiapa pada bulan Ramadhan memberi makan kepada orang yang berbuka puasa, maka itu menjadi ampunan bagi dosa-dosanya, dan mendapat pahala yang sama tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang lain. Mereka (para sahabat) berkata, 'Wahai Rasulullah, tidak setiap kami mempunyai makanan untuk diberikan kepada orang yang berbuka puasa.' Beliau berkata, 'Allah memberikan pahala kepada orang yang memberi buka puasa meski dengan sebutir kurma, seteguk air, atau sesisip susu...Barangsiapa memberi minum orang yang berpuasa maka Allah akan memberinya minum seteguk dari telagak dimana ia tidak akan haus hingga masuk surga." (HR. Ibnu Khuzaimah dan Baihaqi)

13. Berkumpul dengan sanak keluarga
Pada tanggal 1 Syawal ummat Islam merayakan Hari Raya Idhul Fitri. Inilah hari kemenangan setelah berperang melawan hawa nafsu dan syetan selama bulan Ramadhan. Di Indonesia punya tradisi khusus untuk merayakan hari bahagia itu yang disebut Lebaran. Saat itu orang ramai melakukan silahtuhrahim dan saling memaafkan satu dengan yang lain. Termasuk kerabat-kerabat jauh datang berkumpul. Orang-orang yang bekerja di kota-kota pulang untuk merayakan lebaran di kampung bersama kedua orang tuanya. Maka setiap hari Raya selalu terjadi pemandangan khas, yaitu orang berduyun-duyun dan berjubel-jubel naik kendaraan mudik ke kampung halaman. Silahturahim dan saling memaafkan itu menurut ajaran Islam bisa berlangsung kapan saja. Tidak mesti pada Hari Raya. Tetapi itu juga tidak dilarang. Justru itu momentum bagus. Mungkin, pada hari biasa kita sibuk dengan urusan masing-masing, sehingga tidak sempat lagi menjalin hubungan dengan tetangga dan saudara yang lain. Padahal silahturahim itu dianjurkan Islam, sebagaimana dinyatakan hadis, "Siapa yang ingin rezekinya dibanyakkan dan umurnya dipanjangkan, hendaklah ia menghubungkan tali silaturahmi!" (HR. Bukhari)

14. Qaulan tsaqiilaa
Pada malam Ramadhan ditekankan (disunnahkan) untuk melakukan shalat malam dan tadarus al-Qur'an. Waktu paling baik menunaikan shalat malam sesungguhnya seperdua atau sepertiga malam terakhir (QS Al Muzzammil: 3). Tetapi demi kesemarakan syiar Islam pada Ramadhan ulama membolehkan melakukan terawih pada awal malam setelah shalat isya' dengan berjamaah di masjid. Shalat ini populer disebut shalat tarawih. Shalat malam itu merupakan peneguhan jiwa, setelah siangnya sang jiwa dibersihkan dari nafsu-nafsu kotor lainnya. Ditekankan pula usai shalat malam untuk membaca Kitab Suci al-Qur'an secara tartil (memahami maknanya). Dengan membaca Kitab Suci itu seseorang bakal mendapat wawasan-wawasan yang luas dan mendalam, karena al-Qur'an memang sumber pengetahuan dan ilham.


Dengan keteguhan jiwa dan wawasan yang luas itulah Allah kemudian mengaruniai qaulan tsaqiilaa (perkataan yang berat). Perkataan-perkataan yang berbobot dan berwibawa. Ucapan-ucapannya selalu berisi kebenaran. Maka orang-orang yang suka melakukan shalat malam wajahnya bakal memancarkan kewibawaan.

15. Hartanya tersucikan
Setiap Muslim yang mampu pada setiap Ramadhan diwajibkan mengeluarkan zakat.
Ada dua zakat, yaitu fitrah dan maal. Zakat fitrah besarnya 2,5 kilogram per orang berupa bahan-bahan makanan pokok. Sedangkan zakat maal besarnya 2,5 persen dari seluruh kekayaannya bila sudah mencapai batas nisab dan waktunya. Zakat disamping dimaksudkan untuk menolong fakir miskin, juga guna mensucikan hartanya. Harta yang telah disucikan bakal mendatangkan barakah dan menghindarkan pemiliknya dari siksa api neraka. Harta yang barakah akan mendatangkan ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan. Sebaliknya, harta yang tidak barakah akan mengundang kekhawatiran dan ketidaksejahteraan.